Jumat, 28 Desember 2012

Cerpen-Batok Kelapa



Batok Kelapa

                Rangga, Dicky, dan Ilham dengan kerennya berjalan menuju kantin sekolah, hingga cewek-cewek yang berada di sekeliling mereka terpana. Sesampainya di kantin mereka memesan minuman dan nongkrong di sana.
“Hai, Ngga. Gimana kabar cewek itu?”tanya Ilham.
“Cewek yang mana?”tanya Rangga balik.
“Itu cewek kelas XI IPS B, yang kalau ketemu loe pasti manyun.”ujar Dicky sambil menyeruput minumannya.
“Oh, si Shafa. Emang kenapa sama dia?”
“Eh, cewek itu kalau manggil loe siapa? Gue lupa.”ujar Ilham sambil cengingiran.
“Batok kelapa, ha ha ha…”ujar Dicky sambil tertawa keras.
“Awas loe ketawa lagi, gue jitak loe.”
“He , , he , , sorry mas bro, abis lucu sih.”ujar Dicky.
“Udahlah guys, jangan bahas dia. Nggak penting tauk.” Ucap Rangga.
“Dia itu cewek yang tangguh ya? Dia berani nantangin loe.”ujar Ilham.
“Ok, ok, gue tau dia emank tangguh. Eh, enaknya cewek itu di apain ya, gue kesel banget sama dia.”
“Loe pacarin aja, trus diputusin tanpa belas kasihan, pasti dia sakit hati banget.”usul Dicky.
“Ih, ogah gue. Itu udah taktik kuno guys, yang lain donk.”
“Kerjain aja gimana?”ujar Ilham.
“Loe punya ide?”tanya Rangga.
“Punya donk, sini gue bisikin.”ucap Ilham. Mereka pun mulai berbisik-bisik ria, setelah itu mereka tertawa keras dan segera pergi menuju kelas.

                                                aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa



“Huah,,,,”
                Pelajaran ekonomi amat membosankan bagi Shafa. Sejak pelajaran ekonomi dimulai, Shafa sudah menguap hingga lima kali. Dia mencoba melipat-lipat kertas, menggigit-gigit pensil, dan mengetuk-ngetuk meja bangku. Namun, kebosanannya tidak kunjung hilang pada pelajaran yang satu itu.
                Tet , , , tet , , ,
                Bel berbunyi, anak-anak segera keluar dari kelas. Shafa tersenyum penuh kemenangan. ‘Akhirnya’ batinnya berucap, dan Shafa bergegas menuju kantin.
“Hai,”sapa seseorang dari belakang. Shafa pun menoleh.
“Eh, ternyata loe, batok kelapa. Ada apa?”ucap Shafa. Dicky dan Ilham yang mendengar itu langsung tertawa.
“Woi, diem loe.”bisik Rangga kepada teman-temannya.
“Sorry, Ngga, keceplosan.”ucap Ilham
“Eh, loe tu nggak usah sok ya jadi cewek. Emangnya loe tu siapa.”ujar Rangga sambil menunjuk Shafa. Shafa berlagak berpikir sambil menopang kepalanya dengan tangannya.
“Gue siapa ya . . . . . oh oya, gue ini orang yang menciptakan nama spektakuler buat loe, BATOK KELAPA, ha , , ha , ,” rangga naik darah dan segera mencengkeram tangan kanan Shafa.
“Eh, loe tu . . . . Hah dasar, gue benci banget sama loe.”ujar Rangga sambil melepaskan cengkeramannya pada Shafa.
“Sama, gue juga benci sama loe.”
“Gue nggak suka sama loe.”
“Sama,”
“Loe tuh nyebelin banget ya?”
“Sama.”ucap Shafa sambil memandang wajah Rangga dengan raut muka yang menantang.
“Nggak usah jawab bisa nggak sih.”
“Loe nggak usah cerewet bisa nggak sih.”ucap Shafa
“Dasar loe cewek nggak tau diri.”
“Loe juga, sama. Bye, batok kelapa. Wek , , ,”ujar Shafa sambil berlari menjauhi Rangga dan teman-temannya. Ilham dan Dicky hanya cengingiran melihat kegusaran Rangga pada Shafa.
               
                                                aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa

Enam bulan silam, di kantin SMA Pertiwi terjadi pertengkaran yang hebat antara Rangga kelas XII IPS C dengan Shafa kelas XI IPS B. sebenarnya masalah yang mereka debatkan adalah masalah sepele, namun, sifat mereka yang sama-sama keras kepala membuat masalah itu menjadi besar. Saat itu Shafa sedang membawa soto dan segelas es jeruk. Saat itu juga Rangga sedang  berjalan dan bersenda gurau dengan Dicky dan Ilham. Tabrakan pun tak terhindarkan, makanan dan minuman Shafa jatuh ke tanah, HP Rangga pun menyusul dan jatuh tepat di genangan es jeruk.
“Eh, loe kalau jalan liat-liat dunk.”ujar Shafa.
“Eh, loe tu yang salah, liat tuh HP gue rusak.”ujar Rangga tak mau kalah.
“Kok gue, kan loe yang jalan nggal liat-liat sekitar.”
“Loe juga, udah tau gue lagi nimbrung sama temen gue masih aja loe lewat. Ganti HP gue sekarang, harganya lima juta tuh.”ucap Rangga sambil menatap Shafa dengan wajah marah.
“What , , , HP jelek gitu aja lima juta. Semua ini terjadi karena kesalahan loe, o’on.”
“Eh, jaga mulut loe. Loe tu tau nggak siapa gue, ha?”
“Alah, loe tu cuma anak dari pemilik sekolah ini, cuma anaknya. Loe juga orang yang model rambutnya aneh, kayak model belahan tempurung kelapa, Batok Kelapa.”
“Woi, ngomong apa loe.”teriak Rangga.
“Dasar,batok kelapa. Model rambut apaan tuh.”ujar Shafa sambil berlalu.
“Eh, mau kemana loe, woi.”
“Diem loe, jangan ngikutin gue.”bentak Shafa sambil mengarahkan telunjuknya di depan wajah Rangga. Rangga seketika terdiam, sedangkan Dicky dan Ilham hanya menatap Shafa yang berjalan menjauhi mereka. Sejak itu Rangga mendapat julukan Batok Kelapa dari Shafa, dan hanya Shafa yang berani terang-terangan memanggil Rangga dengan julukan itu.


                                                aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa
“Gimana, Ngga. Udah siap?”
“Siap donk. Ham, ntar gimana rencananya?”
“Gini, nanti loe masuk ke gudang buat masang jebakan untuk Shafa. Tepatnya di  pintu depan gudang bagian dalam loe pasang air, jadi, ketika pintu kita tarik dari luar, airnya bakalan tumpah kena dia. Trus gue sama Dicky akan mengunci Shafa di gudang seharian. Baru besok pagi kita buka gudangnya. Gimana?”
“Jenius loe, ok, gue setuju.”ucap Rangga.
                Sesampainya di gudang Rangga langsung mempersiapkan jebakan untuk Shafa. Sedangkan Ilham dan Dicky menghampiri kelas Shafa untuk memancing Shafa agar menuju gudang.
“Tangganya mana ya? Oh, itu dia.”gumam Rangga sendirian. Ia langsung memasang seember air di atas pintu dengan seutas tali.
“Hufh, udah siap. Tinggal keluar.”ucap Rangga. Rangga segera menelpon Ilham untuk mengatakan bahwa  jebakan yang ia pasang sudah siap.
“Guys, it’s show time.”ucap Rangga sambil tersenyum simpul.

                                                                aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa


Dicky dan Ilham celingak-celinguk di depan kelas Shafa. Sesaat terdapat seorang cewek melintas di depan mereka, dan mereka langsung menghadangnya.
“Eh , , eh , , mau bantu gue nggak?”tanya Dicky.
“Bantu apa?”tanya cewek itu.
“Gini, loe suruh Shafa ke gudang sekarang. Bilangin disuruh ngambil peta dunia yang lama sama peta khusus gunung berapi di Indonesia, di gudang. Mau nggak? Ntar gue kasih imbalan deh.”tawar Ilham.
“Imbalan apa?”
“Mau loe apa?”tanya Dicky.
“Em  , , , , apa ya , , , . Gue mau loe ngasih gue boneka panda yang besar banget, dan Ilham, gue mau loe nge-date sama gue malam ini. Gimana?”
“Standart banget permintaan loe. Ok, kita bakal turutin kemauan loe, setelah loe melaksanakan tugas loe dengan baik.”ujar Ilham.
“Ok,”
                Di dalam kelas cewek itu segera menghampiri Shafa dan berbicara dengannya. Shafa terlihat mengangguk dan beranjak dari tempat duduknya.
“Eh, ayo kabur, Ham. Shafa lewat tuh.”ucap Dicky. Ilham dan Dicky pun segera pergi dari tempat itu.
                Di tempat lain.
“Aduh, gue lupa. Jaket gue ketinggalan di gudang. Gue ambil dulu deh.”gumam Rangga. Rangga pun bergegas menuju gudang dan mengambil jaketnya.
“Nah, ini dia jaket kesayangan gue.”
                Saat Rangga bergegas untuk keluar gudang, ia mendengar suara teriakan dari gudang bagian depan. Rangga pun segera menuju sumber suara, dan terlihat Shafa basah kuyub dengan ember di kepalanya. Rangga yang melihatnya langsung tertawa terbahak-bahak.
“Rangga, ngapain loe di sini?”tanya Shafa. Rangga yang teringat sesuatu pun langsung terhenyak.
‘Gawat,’batin Rangga.
“Minggir-minggir.”ujar Rangga sambil menghampiri pintu gudang, dan benar dugaan Rangga, pintunya terkunci.
“Sial, pintunya terkunci.”
“Apa?”Shafa terkejut. Rangga terdiam, duduk di lantai gudang dan bersandar pada tembok.
“Kok bisa kayak gini sih, siapa yang ngelakuin ini semua. Tolong , ,  tolong , . . “teriak Shafa.
“Percuma, mendingan loe hemat tenanga loe sampai besok pagi. Lagian udah jam satu, nggak mungkin ada orang lewat depan gudang.”
                Shafa terdiam di dekat Rangga, Rangga menutup matanya perlahan.
“Ngapain loe? Mau bertapa?”
“Gue ngantuk.”jawab Rangga.
“Telepon temen loe gih, buat nolongin kita.”
“Baterai HP gue habis, loe aja deh.”
“HP gue mati ke guyur air tadi. Siapa sih yang bikin hal konyol kayak gini, nggak punya perasaan banget.”gerutu Shafa, dan Rangga hanya terdiam di sebelahnya.
                Pukul empat sore. Tetap seperti tadi, Shafa terus berceloteh tidak karuan, sedangkan Rangga terus terdiam dan menunduk.
“Rangga, aku bosen kalau trus diem-dieman kayak gini. Gara-gara terjebak di sini, gue jadi nggak bisa shalat. Hufh , , , ,”
                Rangga terdiam.
“Rangga, , , , denger gue ngomong nggak sih?”
                Rangga tiba-tiba berdiri tanpa memperdulikan Shafa.
“Mau kemana?”tanya Shafa dengan raut wajah sedih.
“Mank kenapa, bukan urusan loe.”
“Maaf, jangan tinggalin gue sendirian ya.”
                Rangga terkejut. Untuk pertama kalinya Rangga melihat Shafa gelisah dan takut. Rangga menggenggam tangan Shafa lembut dan dengan halus melepasnya, Rangga bergegas menuju gudang bagian belakang. Selang beberapa saat Rangga membawa sebuah gitar yang terlihat tua dan kotor.
“Ini apa?”
“Nenek-nenek pikun juga tau kalau ini gitar.”ujar Rangga.
“Maksud aku bukan itu, dasar. Berarti menurutmu, aku ini lebih parah dari nenek-nenek pikun gitu?”gerutu Shafa sambil manyun, dan Rangga tersenyum simpul.
                Rangga kembali duduk di samping Shafa. Rangga mulai menyetel senar gitar, dan perlahan ia memetik gitar tua itu. Meski  terlihat tidak terurus, namun, gitar itu masih mempunyai senar lengkap dan berbunyi dengan baik.
“Aku bingung dengan sekolah ini. Gitar sebagus ini disimpan dalam gudang, padahal gitar ini menurutku masih layak untuk dimainkan.”ucap Rangga sambil terus menatap gitar di pangkuannya.
                Rangga dengan tenang mengalunkan petikan gitar. Sangat merdu, akord demi akord, nada demi nada. Shafa menikmatinya dengan sebuah senyum ‘kagum’.
Your hand fits in mine
Like it’s made just for me
But bear this in mind
It was meant to be
And I’m joining up the dots
With the freckles on your cheeks
And it all makes sense to me
                Rangga berhenti sejenank sambil menatap langit-langit gudang.
“Itu tadi One Direction ya?”tanya Shafa antusias.
“Bukan, itu tadi gue.”jawab Rangga sambil tersenyum lucu. Shafa yang sebal langsung mencubit pipi Rangga dengan gemas.
“Suara loe jelek.”ledek Shafa.
“Em , , , , gitu ya.”
“Iya,”
“Kalau gitu loe aja yang nyanyi, gue yang main gitar, gimana?”tawar Rangga.
“Ok, siapa takut.”ucap Shafa tersenyum.
“Mau lagu apa?”
“Lagunya Lastchild feat Giselle aja, kamu ikut nyanyi juga.”
“Ok.”
                Alunan gitar mulai terdengar. Mereka bernyanyi dengan penuh penghayatan hingga lagu berakhir. Rangga dan Shafa saling menatap.
“E , ,  em , , ,  Rangga, aku minta maaf ya, aku sudah salah paham sama kamu. Aku kira kamu anak yang sombong dan pamer kekuasaan, tapi setelah aku kenal kamu, ternyata kamu kakak kelas yang baik, hehe.”ucap Shafa sambil menatap Rangga.
“Ehm, jadi aku kamu nih ceritanya, hehehe. Iya, aku juga minta maaf sama kamu. Aku selama ini sudah salah menilai kamu.”ujar Rangga sambil mengulurkan tangan pada Shafa.
“Sama-sama.”ucap Shafa sambil menjabat tangan Rangga.

                                                                aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa

Pukul tujuh malam, gudang terasa sangat sepi. Lampu gudang terasa sangat redup, karena sudah lama tidak diganti. Rangga terdiam, Shafa pun ikut terdiam (tidak biasanya). Rangga merasa tidak biasa dengan ketenangan yang Shafa buat. Rangga mencoba mendekati Shafa , terlihat Shafa menggigil kedinginan.
“Sha,  kamu kenapa?”tanya Rangga panik.
“Aku nggak apa-apa kok, Ngga.”
“Bohong,”ujar Rangga, ia langsung memeriksa dagu dan leher Shafa, dan seperti yang Rangga kira, Shafa demam tinggi.
“Aduh, aku lupa kalau baju kamu tadi keguyur air, Sha.”ujar Rangga. Rangga mulai berpikir keras, bagaimana cara menolong Shafa. Akhirnya Rangga membuka jaketnya.
“Rangga, kenapa kamu lepas jaket kamu.”
“Aku harus nolong kamu, pakaian kamu masih basah. Aku bawa celana panjang di tas, kamu bisa pakai celana dan jaketku, cepat pakai.”ujar Rangga sambil mengeluarkan celana panjang lepisnya.
Shafa langsung beranjak dari tempat duduknya menuju gudang belakang. Shafa berjalan gontai dan hampir menabrak tembok. Rangga sedikit kuatir pada Shafa, namun, ia tidak mungkin menunggui Shafa yang sedang ganti baju. Setelah Shafa ganti baju, ia langsung menghampiri Rangga. Rangga yang melihat Shafa kesulitan berjalan langsung ia raih dan ia papah.
“Kamu duduk di sini saja, istirahat ya.”ucap Rangga lembut, dan terlihat Shafa menangis.
“Rangga, maafin aku. Aku sudah seenak hati manggil kamu dengan sebutan yang bukan nama kamu, dan sekarang aku juga nyusahin kamu. Aku minta maaf.”ujar Shafa.
                Rangga mengelus rambut Shafa dan menggenggam tangan Shafa lembut. ‘Aku yang salah, Sha. Aku yang sudah menjebakmu di sini. Mungkin jika aku tidak ada di sini bersamamu, aku akan merasa bersalah seumur hidupku.’batin Rangga.
“Kok diem, Ngga.”
“Oh, em, , , ,nggak kok. Iya sama-sama, Sha. Aku seneng bisa bantu kamu. Sekarang kamu istirahat aja, ini ada bantal bekas UKS, masih lumayan bagus kok. Ini juga ada kardus bekar buat tikar. Seenggaknya kamu bisa tidur dengan baik.”
“Kamu sendiri gimana?”
“Aku nggak apa-apa kok, aku tidur pakai kardus saja, aku dah biasa kok kayak gini. Aku kan cowok. Hehehe.”
                Shafa terdiam sejenak.
“Nggak usah kuatir, aku nggak bakal ngapa-ngapain kamu kok. Tenang aja.”
“Janji ya?”ucap Shafa sambil mengulurkan jari kelingkingnya.
“Iya, aku janji.”balas Rangga sambil mengaitkan kelingking Shafa pada kelingkingnya.
                Pukul Sembilan malam keadaan mulai hening kembali. Rangga masih terjaga, dan ia terus menatap langit-langit gudang. Tiba-tiba Rangga merasakan sakit yang luar biasa, dadanya sesak dan nafasnya terasa sangat berat. Rangga terseok-seok menuju gudang belakang, ia menyusuri tembok demi tembok untuk membantunya sampai di gudang belakang. Ia tidak mau mengganggu tidur Shafa. Rangga mulai batuk-batuk, ia merasa sangat pusing dan lemah. Batuk rangga semakin menjadi.
“Aku lupa tidak membawa obatku, dan hari ini aku tidak meminumnya. Sial, setiap aku batuk darah ini selalu keluar. Hah,,,, Ya Alloh, , , , maafkan aku yang tidak bersyukur ini.”gumam Rangga sambil melihat darah yang berada di tangannya.

                                                                aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa


Pagi menjelang, samar-samar terlihat cahaya dari sela-sela fentilasi udara. Rangga di gudang belakang segera menghampiri Shafa yang berada di gudang depan. Rangga tertawa pelan melihat Shafa yang masih tertidur pulas.
“Sha, bangun. Sebentar lagi gudang akan dibuka.”ujar Rangga.
“Darimana kamu tahu, Ngga?”tanya Shafa sambil mengucek-ucek matanya.
“E , , anu. Biasanya kan gudang dibuka pagi-pagi sekali.”
“Oh, , ,  gitu.”gumam Shafa.
                Krek . . . .
                Terdengar pintu dibuka, Rangga dan Shafa segera keluar dari gudang. Terlihat Dicky dan Ilham di luar pintu, mereka terkejut melihat Shafa bersama dengan Rangga. Dicky dan Ilham memasang raut wajah penuh tanya.
“Loh. Loe kok di sini sih, Ngga?”tanya Ilham.
“Rangga dan  gue kejebak di gudang, Ham. Makasih kalian udah bukain gudang ini.”ujar Shafa.
“Loh, bukannya kita bertiga ngerencanain hal ini buat ngejebak Shafa, kok loe malah ikut kejebak sih, Ngga.”ujar Dicky.
                ‘Goblokkkkkkkkk. . . . ‘batin Rangga.
“Apa maksud loe, Dic. Kalian bertiga ngejebak gue di gudang ini?”tanya Shafa, dan semua terdiam.
“Kalian jahat, gue benci sama kalian semua, terutama loe, Rangga Pras Tama.”ujar Shafa sambil menjauh pergi.
Rangga, Dicky, dan Ilham masih terpaku di depan gudang sekolah. Dicky dan Ilham bingung dengan semua hal yang terjadi.
“Dasar bodoh, begok.”teriak Rangga.
“Loh kenapa loe marah, Ngga? Seharusnya loe kan seneng udah bisa buat Shafa nangis.”ujar Dicky, dan Rangga terdiam.
“Jangan bilang kalau loe jatuh cinta sama Shafa.”selidik Ilham.
“Ayolah, Ngga. Jujur sama kita, kita kan sahabat loe.”tambah Dicky
“Ok, gue ngaku. Gue mulia sayang sama Shafa.
“Mau kita bantu?”tawar Ilham dan Dicky.
“Kalian punya ide?”
“Eh, gue punya. Gimana kalau loe pura-pura sakit aja,Ngga. Kalau Shafa juga sayang sama loe, pasti dia bakalan sedih dan kuatir sama loe.”ujar Ilham. Rangga terlihat berpikir.
“Ok, gue setuju.”ucap Rangga sambil tersenyum.
“Kayaknya jaket dan celana yang dipakai Shafa tadi milik loe deh.”ucap Ilham.
“Emank bener, hehe, dia lupa kali. Tapi nggak apa-apa kok, aku ikhlas kalau dia bawa jaket dan celana favorit gue.”
“Ngga, mendingan loe sekarang pulang deh. Loe kan nggak mandi seharian, haha.”gurau Dicky.
“Ye enak aja. Meskipun aku nggak mandi satu hari, bau gue masih wangi. Ya udah deh, gue cabut dulu ya,bye guys.”
“Bye.”ujar Rangga sambil bergegas menuju tempat parkir.

                                                                aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa

Pagi itu Shafa terlambat menuju sekolah, ia terburu-buru untuk mempersiapkan buku-bukunya. Terlihat jaket dan celana yang ia pinjam dari Rangga. Saat Shafa  marah pada Rangga, ia lupa kalau baju yang dipakainya adalah milik Rangga, ia merasa malu sekaligus senang. Karena Shafa dapat mengenang Rangga lewat jaket dan celana itu. Shafa segera meraih pakaian itu dan dimasukkanya ke tas.
Bel berbunyi tanda istirahat, Shafa segera menuju kantin. Namun, sebelum ia sampai di kantin Dicky dan Ilham menghadangnya.
“Hai, Shafa.”sapa Ilham dengan raut wajah sedih.
“Hai juga.”jawab Shafa cuek.
“Sha, Rangga sakit, loe mau jenguk dia hari ini bareng kita?”ucap Dicky.
“I don’t care.”
“Loe beneran nggak peduli?”tanya Ilham dengan raut wajah penuh selidik.
“Dia koma, Sha. Rangga sakit parah.”ujar Dicky.
“Kan dia punya banyak cewek, suruh aja mereka buat jenguk.”
“Sha, gue serius.”ucap Ilham.
Shafa terdiam, ia bingung antara percaya dan tidak percaya. Ia tidak mau tertipu dengan kejailan mereka untuk kedua kalinya.
“Loe tega banget sama Rangga, Sha. Gue salah nilai loe. Dic, cabut yuk.”
“Eh , , , em , ,  tunggu. Gue ikut kalian.”

                                                                aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa

Sepulang sekolah Shafa, Dicky dan Ilham menjenguk Rangga di rumah sakit Kusuma. Sesampainya di rumah sakit Shafa langsung menemui Rangga di ruang ICU lantai empat.
“Sha, samperin Rangga gih.”ujar Ilham.
                Shafa mendekati Rangga yang terbaring lemas di ranjang. Matanya terpejam, infus dan alat-alat rumah sakit menemaninya. Ayah  Rangga hanya dapat terdiam di tempat duduk yang lain.
“Rangga, kenapa kamu bisa kayak gini?”tanya Shafa pada Rangga yang terbaring tanpa suara. Hanya suara alat detak jantung yang terus berbunyi.
“Sha, sebenarnya kami merencanakan sesuatu agar loe dan Rangga bisa baikan lagi. Rangga sangat menyayangi loe. Rangga ingin pura-pura sakit agar loe kuatir padanya. Namun, ternyata Rangga benar-benar sakit. Dia mempunyai penyakit leukemia yang parah, ayahnya menemukan Rangga tergeletak di kamar mandi bersimbah darah di mulut dan tangannya.”ujar Dicky.
                Shafa tersentak. Saat terjebak di gudang dulu, ia menemukan bekas darah di celana dan tangan Rangga . Shafa kira itu hanya bekas warna merah kotor dari lantai dan dinding gudang, dan kini dia tahu, ternyata itu benar-benar darah.
“Rangga, Rangga bangun. Ini aku, Shafa. Aku sudah maafin semua kesalahan kamu, kamu juga minta maaf sama kamu, karena aku telah membohongi perasaanku sendiri. Aku menyanyangimu Rangga,  aku nggak mau kamu kayak gini, ayo bangun. Aku ingin kita bermain gitar lagi, kita bercanda lagi. Rangga, ayo bangun.”ucap Shafa sambil menunduk di sisi Rangga.
Shafa mencoba menggenggam tangan Rangga. Ilham dan Dicky hanya terdiam di samping ayah Rangga. Shafa ingin menangis menatap Rangga yang terbaring lemah dan pucat.
“Rangga, ayo bangun, ayo , , , ,. Kamu bilang kamu menyayangiku. Jangan membuatku menangis seperti ini.”ucap Shafa yang berderai air mata.
                Tit , , tit , ,  ttttiiiiiiiittttttttttttttttttt , , , , , . alat pendeteksi detak jantung berbunyi keras. Ayah Rangga langsung berteriak memanggil dokter dan perawat. Ilham dan Dicky mulai panik dan mendekati Rangga.
“Rangga , , , , , ,  Rangga , , , . jangan membuatku takut, aku mohon buka matamu, Rangga , , , , .”teriak Shafa saat Dicky menarik tangan Shafa untuk keluar ruangan.
                Terlihat dokter dan perawat bekerja keras untuk menyelamatkan Rangga. Namun, dokter dan perawat segera keluar dari kamar Rangga dengan wajah sedih.
“Doni, bagaimana keadaan anakku? Dia baik-baik saja kan?”ujar ayah Rangga sambil menggungcang-guncangkan tubuh dokter Doni, sahabat Ayah Rangga.
“Maaf, Reza. Kami tidak dapat menyelamatkan anakmu. Detak jantungnya tidak ada, sudah kami coba segala cara, namun , jantungnya tidak kunjung berdetak. Tabahkan hatimu, Reza.”ucap dokter Doni sambil menepuk pundak ayah Rangga.
“Tidak , , , .”teriak Shafa sambil menerobos pintu kamar Rangga.
“Rangga, ayo bangun. Ayo , ,, “ucap Shafa.
“Sha, ikhlaskan dia. Rangga pasti sangat senang loe nemenin dia pada saat-saat terakhir. Rangga sangat menyayangimu, bahkan dia merelakan jaket dan celana jeans favoritnya. Aku yang sudah menjadi sahabatnya selama 15 tahun saja tidak diperbolehkan untuk memakainya, apalagi meminjamnya.”ujar Dicky sedih, namun, bibirnya tersenyum mengingat masa lalu.
“Kami sangat sedih, sama sepertimu, Sha. Tapi kita harus merelakan dia, dia tidak akan merasa kesakitan lagi.”ucap Ilham.
 Shafa terdiam. Ia tidak dapat berpikir saat ini. Perasaannya campur aduk, antara rasa sedih, kalut, marah dan kesal. Ia sedih dan kalut karena orang yang ia sayangi meninggalkannya dengan sesuatu yang ia tidak mengerti, ia kesal dan marah karena Rangga meninggalkannya tanpa Rangga tau bahwa ia juga menyanyanginya.
‘Mengapa kamu meninggalkanku sekarang Rangga, di saat aku sudah merasakan perasaan yang dalam padamu. Ya Allah , , ,’

Kau tak sempat tanyakan aku
Cintakah aku padamu
Tiap kali aku bersujud aku berdoa
Suatu saat kau bisa cinta padaku
Tiap kali aku memanggil di dalam
Mana sunny, mana sunnyku,
Tamat

Cerita ini hanya fiktif belaka. Jika ada salah kata dan apapun yang tidak berkenan pada hati pembaca. Saya minta maaf, Nur asiyah.









Tidak ada komentar:

Posting Komentar