Batok Kelapa
Rangga,
Dicky, dan Ilham dengan kerennya berjalan menuju kantin sekolah, hingga
cewek-cewek yang berada di sekeliling mereka terpana. Sesampainya di kantin
mereka memesan minuman dan nongkrong di sana.
“Hai, Ngga. Gimana kabar cewek itu?”tanya Ilham.
“Cewek yang mana?”tanya Rangga balik.
“Itu cewek kelas XI IPS B, yang kalau ketemu loe pasti
manyun.”ujar Dicky sambil menyeruput minumannya.
“Oh, si Shafa. Emang kenapa sama dia?”
“Eh, cewek itu kalau manggil loe siapa? Gue lupa.”ujar Ilham
sambil cengingiran.
“Batok kelapa, ha ha ha…”ujar Dicky sambil tertawa keras.
“Awas loe ketawa lagi, gue jitak loe.”
“He , , he , , sorry mas bro, abis lucu sih.”ujar Dicky.
“Udahlah guys, jangan bahas dia. Nggak penting tauk.” Ucap
Rangga.
“Dia itu cewek yang tangguh ya? Dia berani nantangin
loe.”ujar Ilham.
“Ok, ok, gue tau dia emank tangguh. Eh, enaknya cewek itu di
apain ya, gue kesel banget sama dia.”
“Loe pacarin aja, trus diputusin tanpa belas kasihan, pasti
dia sakit hati banget.”usul Dicky.
“Ih, ogah gue. Itu udah taktik kuno guys, yang lain donk.”
“Kerjain aja gimana?”ujar Ilham.
“Loe punya ide?”tanya Rangga.
“Punya donk, sini gue bisikin.”ucap Ilham. Mereka pun mulai
berbisik-bisik ria, setelah itu mereka tertawa keras dan segera pergi menuju
kelas.
aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa
“Huah,,,,”
Pelajaran
ekonomi amat membosankan bagi Shafa. Sejak pelajaran ekonomi dimulai, Shafa
sudah menguap hingga lima kali. Dia mencoba melipat-lipat kertas,
menggigit-gigit pensil, dan mengetuk-ngetuk meja bangku. Namun, kebosanannya
tidak kunjung hilang pada pelajaran yang satu itu.
Tet , ,
, tet , , ,
Bel
berbunyi, anak-anak segera keluar dari kelas. Shafa tersenyum penuh kemenangan.
‘Akhirnya’ batinnya berucap, dan Shafa bergegas menuju kantin.
“Hai,”sapa seseorang dari belakang. Shafa pun menoleh.
“Eh, ternyata loe, batok kelapa. Ada apa?”ucap Shafa. Dicky
dan Ilham yang mendengar itu langsung tertawa.
“Woi, diem loe.”bisik Rangga kepada teman-temannya.
“Sorry, Ngga, keceplosan.”ucap Ilham
“Eh, loe tu nggak usah sok ya jadi cewek. Emangnya loe tu
siapa.”ujar Rangga sambil menunjuk Shafa. Shafa berlagak berpikir sambil
menopang kepalanya dengan tangannya.
“Gue siapa ya . . . . . oh oya, gue ini orang yang
menciptakan nama spektakuler buat loe, BATOK KELAPA, ha , , ha , ,” rangga naik
darah dan segera mencengkeram tangan kanan Shafa.
“Eh, loe tu . . . . Hah dasar, gue benci banget sama
loe.”ujar Rangga sambil melepaskan cengkeramannya pada Shafa.
“Sama, gue juga benci sama loe.”
“Gue nggak suka sama loe.”
“Sama,”
“Loe tuh nyebelin banget ya?”
“Sama.”ucap Shafa sambil memandang wajah Rangga dengan raut
muka yang menantang.
“Nggak usah jawab bisa nggak sih.”
“Loe nggak usah cerewet bisa nggak sih.”ucap Shafa
“Dasar loe cewek nggak tau diri.”
“Loe juga, sama. Bye, batok kelapa. Wek , , ,”ujar Shafa sambil
berlari menjauhi Rangga dan teman-temannya. Ilham dan Dicky hanya cengingiran
melihat kegusaran Rangga pada Shafa.
aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa
Enam bulan silam, di kantin SMA
Pertiwi terjadi pertengkaran yang hebat antara Rangga kelas XII IPS C dengan
Shafa kelas XI IPS B. sebenarnya masalah yang mereka debatkan adalah masalah
sepele, namun, sifat mereka yang sama-sama keras kepala membuat masalah itu
menjadi besar. Saat itu Shafa sedang membawa soto dan segelas es jeruk. Saat
itu juga Rangga sedang berjalan dan
bersenda gurau dengan Dicky dan Ilham. Tabrakan pun tak terhindarkan, makanan
dan minuman Shafa jatuh ke tanah, HP Rangga pun menyusul dan jatuh tepat di
genangan es jeruk.
“Eh, loe kalau jalan liat-liat dunk.”ujar Shafa.
“Eh, loe tu yang salah, liat tuh HP gue rusak.”ujar Rangga
tak mau kalah.
“Kok gue, kan loe yang jalan nggal liat-liat sekitar.”
“Loe juga, udah tau gue lagi nimbrung sama temen gue masih
aja loe lewat. Ganti HP gue sekarang, harganya lima juta tuh.”ucap Rangga
sambil menatap Shafa dengan wajah marah.
“What , , , HP jelek gitu aja lima juta. Semua ini terjadi
karena kesalahan loe, o’on.”
“Eh, jaga mulut loe. Loe tu tau nggak siapa gue, ha?”
“Alah, loe tu cuma anak dari pemilik sekolah ini, cuma
anaknya. Loe juga orang yang model rambutnya aneh, kayak model belahan
tempurung kelapa, Batok Kelapa.”
“Woi, ngomong apa loe.”teriak Rangga.
“Dasar,batok kelapa. Model rambut apaan tuh.”ujar Shafa
sambil berlalu.
“Eh, mau kemana loe, woi.”
“Diem loe, jangan ngikutin gue.”bentak Shafa sambil mengarahkan
telunjuknya di depan wajah Rangga. Rangga seketika terdiam, sedangkan Dicky dan
Ilham hanya menatap Shafa yang berjalan menjauhi mereka. Sejak itu Rangga mendapat
julukan Batok Kelapa dari Shafa, dan hanya Shafa yang berani terang-terangan
memanggil Rangga dengan julukan itu.
aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa
“Gimana, Ngga. Udah siap?”
“Siap donk. Ham, ntar gimana rencananya?”
“Gini, nanti loe masuk ke gudang buat masang jebakan untuk
Shafa. Tepatnya di pintu depan gudang
bagian dalam loe pasang air, jadi, ketika pintu kita tarik dari luar, airnya bakalan
tumpah kena dia. Trus gue sama Dicky akan mengunci Shafa di gudang seharian.
Baru besok pagi kita buka gudangnya. Gimana?”
“Jenius loe, ok, gue setuju.”ucap Rangga.
Sesampainya
di gudang Rangga langsung mempersiapkan jebakan untuk Shafa. Sedangkan Ilham
dan Dicky menghampiri kelas Shafa untuk memancing Shafa agar menuju gudang.
“Tangganya mana ya? Oh, itu dia.”gumam Rangga sendirian. Ia
langsung memasang seember air di atas pintu dengan seutas tali.
“Hufh, udah siap. Tinggal keluar.”ucap Rangga. Rangga segera
menelpon Ilham untuk mengatakan bahwa
jebakan yang ia pasang sudah siap.
“Guys, it’s show time.”ucap Rangga sambil tersenyum simpul.
aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa
Dicky dan Ilham celingak-celinguk di depan kelas Shafa.
Sesaat terdapat seorang cewek melintas di depan mereka, dan mereka langsung
menghadangnya.
“Eh , , eh , , mau bantu gue nggak?”tanya Dicky.
“Bantu apa?”tanya cewek itu.
“Gini, loe suruh Shafa ke gudang sekarang. Bilangin disuruh ngambil
peta dunia yang lama sama peta khusus gunung berapi di Indonesia, di gudang.
Mau nggak? Ntar gue kasih imbalan deh.”tawar Ilham.
“Imbalan apa?”
“Mau loe apa?”tanya Dicky.
“Em , , , , apa ya ,
, , . Gue mau loe ngasih gue boneka panda yang besar banget, dan Ilham, gue mau
loe nge-date sama gue malam ini. Gimana?”
“Standart banget permintaan loe. Ok, kita bakal turutin
kemauan loe, setelah loe melaksanakan tugas loe dengan baik.”ujar Ilham.
“Ok,”
Di
dalam kelas cewek itu segera menghampiri Shafa dan berbicara dengannya. Shafa
terlihat mengangguk dan beranjak dari tempat duduknya.
“Eh, ayo kabur, Ham. Shafa lewat tuh.”ucap Dicky. Ilham dan
Dicky pun segera pergi dari tempat itu.
Di
tempat lain.
“Aduh, gue lupa. Jaket gue ketinggalan di gudang. Gue ambil
dulu deh.”gumam Rangga. Rangga pun bergegas menuju gudang dan mengambil
jaketnya.
“Nah, ini dia jaket kesayangan gue.”
Saat
Rangga bergegas untuk keluar gudang, ia mendengar suara teriakan dari gudang
bagian depan. Rangga pun segera menuju sumber suara, dan terlihat Shafa basah
kuyub dengan ember di kepalanya. Rangga yang melihatnya langsung tertawa
terbahak-bahak.
“Rangga, ngapain loe di sini?”tanya Shafa. Rangga yang
teringat sesuatu pun langsung terhenyak.
‘Gawat,’batin Rangga.
“Minggir-minggir.”ujar Rangga sambil menghampiri pintu
gudang, dan benar dugaan Rangga, pintunya terkunci.
“Sial, pintunya terkunci.”
“Apa?”Shafa terkejut. Rangga terdiam, duduk di lantai gudang
dan bersandar pada tembok.
“Kok bisa kayak gini sih, siapa yang ngelakuin ini semua.
Tolong , , tolong , . . “teriak Shafa.
“Percuma, mendingan loe hemat tenanga loe sampai besok pagi.
Lagian udah jam satu, nggak mungkin ada orang lewat depan gudang.”
Shafa
terdiam di dekat Rangga, Rangga menutup matanya perlahan.
“Ngapain loe? Mau bertapa?”
“Gue ngantuk.”jawab Rangga.
“Telepon temen loe gih, buat nolongin kita.”
“Baterai HP gue habis, loe aja deh.”
“HP gue mati ke guyur air tadi. Siapa sih yang bikin hal
konyol kayak gini, nggak punya perasaan banget.”gerutu Shafa, dan Rangga hanya
terdiam di sebelahnya.
Pukul
empat sore. Tetap seperti tadi, Shafa terus berceloteh tidak karuan, sedangkan
Rangga terus terdiam dan menunduk.
“Rangga, aku bosen kalau trus diem-dieman kayak gini.
Gara-gara terjebak di sini, gue jadi nggak bisa shalat. Hufh , , , ,”
Rangga
terdiam.
“Rangga, , , , denger gue ngomong nggak sih?”
Rangga
tiba-tiba berdiri tanpa memperdulikan Shafa.
“Mau kemana?”tanya Shafa dengan raut wajah sedih.
“Mank kenapa, bukan urusan loe.”
“Maaf, jangan tinggalin gue sendirian ya.”
Rangga
terkejut. Untuk pertama kalinya Rangga melihat Shafa gelisah dan takut. Rangga
menggenggam tangan Shafa lembut dan dengan halus melepasnya, Rangga bergegas
menuju gudang bagian belakang. Selang beberapa saat Rangga membawa sebuah gitar
yang terlihat tua dan kotor.
“Ini apa?”
“Nenek-nenek pikun juga tau kalau ini gitar.”ujar Rangga.
“Maksud aku bukan itu, dasar. Berarti menurutmu, aku ini
lebih parah dari nenek-nenek pikun gitu?”gerutu Shafa sambil manyun, dan Rangga
tersenyum simpul.
Rangga
kembali duduk di samping Shafa. Rangga mulai menyetel senar gitar, dan perlahan
ia memetik gitar tua itu. Meski terlihat
tidak terurus, namun, gitar itu masih mempunyai senar lengkap dan berbunyi
dengan baik.
“Aku bingung dengan sekolah ini. Gitar sebagus ini disimpan
dalam gudang, padahal gitar ini menurutku masih layak untuk dimainkan.”ucap
Rangga sambil terus menatap gitar di pangkuannya.
Rangga
dengan tenang mengalunkan petikan gitar. Sangat merdu, akord demi akord, nada
demi nada. Shafa menikmatinya dengan sebuah senyum ‘kagum’.
Your hand fits in
mine
Like it’s made
just for me
But bear this in
mind
It was meant to be
And I’m joining up
the dots
With the freckles
on your cheeks
And it all makes
sense to me
Rangga
berhenti sejenank sambil menatap langit-langit gudang.
“Itu tadi One Direction ya?”tanya Shafa antusias.
“Bukan, itu tadi gue.”jawab Rangga sambil tersenyum lucu.
Shafa yang sebal langsung mencubit pipi Rangga dengan gemas.
“Suara loe jelek.”ledek Shafa.
“Em , , , , gitu ya.”
“Iya,”
“Kalau gitu loe aja yang nyanyi, gue yang main gitar,
gimana?”tawar Rangga.
“Ok, siapa takut.”ucap Shafa tersenyum.
“Mau lagu apa?”
“Lagunya Lastchild feat Giselle aja, kamu ikut nyanyi juga.”
“Ok.”
Alunan
gitar mulai terdengar. Mereka bernyanyi dengan penuh penghayatan hingga lagu
berakhir. Rangga dan Shafa saling menatap.
“E , , em , , , Rangga, aku minta maaf ya, aku sudah salah
paham sama kamu. Aku kira kamu anak yang sombong dan pamer kekuasaan, tapi
setelah aku kenal kamu, ternyata kamu kakak kelas yang baik, hehe.”ucap Shafa
sambil menatap Rangga.
“Ehm, jadi aku kamu nih ceritanya, hehehe. Iya, aku juga
minta maaf sama kamu. Aku selama ini sudah salah menilai kamu.”ujar Rangga
sambil mengulurkan tangan pada Shafa.
“Sama-sama.”ucap Shafa sambil menjabat tangan Rangga.
aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa
Pukul tujuh malam, gudang terasa
sangat sepi. Lampu gudang terasa sangat redup, karena sudah lama tidak diganti.
Rangga terdiam, Shafa pun ikut terdiam (tidak biasanya). Rangga merasa tidak
biasa dengan ketenangan yang Shafa buat. Rangga mencoba mendekati Shafa ,
terlihat Shafa menggigil kedinginan.
“Sha, kamu kenapa?”tanya
Rangga panik.
“Aku nggak apa-apa kok, Ngga.”
“Bohong,”ujar Rangga, ia langsung memeriksa dagu dan leher
Shafa, dan seperti yang Rangga kira, Shafa demam tinggi.
“Aduh, aku lupa kalau baju kamu tadi keguyur air, Sha.”ujar
Rangga. Rangga mulai berpikir keras, bagaimana cara menolong Shafa. Akhirnya
Rangga membuka jaketnya.
“Rangga, kenapa kamu lepas jaket kamu.”
“Aku harus nolong kamu, pakaian kamu masih basah. Aku bawa
celana panjang di tas, kamu bisa pakai celana dan jaketku, cepat pakai.”ujar Rangga
sambil mengeluarkan celana panjang lepisnya.
Shafa langsung beranjak dari
tempat duduknya menuju gudang belakang. Shafa berjalan gontai dan hampir
menabrak tembok. Rangga sedikit kuatir pada Shafa, namun, ia tidak mungkin
menunggui Shafa yang sedang ganti baju. Setelah Shafa ganti baju, ia langsung
menghampiri Rangga. Rangga yang melihat Shafa kesulitan berjalan langsung ia
raih dan ia papah.
“Kamu duduk di sini saja,
istirahat ya.”ucap Rangga lembut, dan terlihat Shafa menangis.
“Rangga, maafin aku. Aku sudah
seenak hati manggil kamu dengan sebutan yang bukan nama kamu, dan sekarang aku
juga nyusahin kamu. Aku minta maaf.”ujar Shafa.
Rangga
mengelus rambut Shafa dan menggenggam tangan Shafa lembut. ‘Aku yang salah,
Sha. Aku yang sudah menjebakmu di sini. Mungkin jika aku tidak ada di sini
bersamamu, aku akan merasa bersalah seumur hidupku.’batin Rangga.
“Kok diem, Ngga.”
“Oh, em, , , ,nggak kok. Iya sama-sama, Sha. Aku seneng bisa
bantu kamu. Sekarang kamu istirahat aja, ini ada bantal bekas UKS, masih
lumayan bagus kok. Ini juga ada kardus bekar buat tikar. Seenggaknya kamu bisa
tidur dengan baik.”
“Kamu sendiri gimana?”
“Aku nggak apa-apa kok, aku tidur pakai kardus saja, aku dah biasa kok kayak gini. Aku kan cowok. Hehehe.”
“Aku nggak apa-apa kok, aku tidur pakai kardus saja, aku dah biasa kok kayak gini. Aku kan cowok. Hehehe.”
Shafa
terdiam sejenak.
“Nggak usah kuatir, aku nggak bakal ngapa-ngapain kamu kok.
Tenang aja.”
“Janji ya?”ucap Shafa sambil mengulurkan jari kelingkingnya.
“Iya, aku janji.”balas Rangga sambil mengaitkan kelingking
Shafa pada kelingkingnya.
Pukul
Sembilan malam keadaan mulai hening kembali. Rangga masih terjaga, dan ia terus
menatap langit-langit gudang. Tiba-tiba Rangga merasakan sakit yang luar biasa,
dadanya sesak dan nafasnya terasa sangat berat. Rangga terseok-seok menuju
gudang belakang, ia menyusuri tembok demi tembok untuk membantunya sampai di
gudang belakang. Ia tidak mau mengganggu tidur Shafa. Rangga mulai batuk-batuk,
ia merasa sangat pusing dan lemah. Batuk rangga semakin menjadi.
“Aku lupa tidak membawa obatku, dan hari ini aku tidak
meminumnya. Sial, setiap aku batuk darah ini selalu keluar. Hah,,,, Ya Alloh, ,
, , maafkan aku yang tidak bersyukur ini.”gumam Rangga sambil melihat darah
yang berada di tangannya.
aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa
Pagi menjelang, samar-samar terlihat cahaya dari sela-sela
fentilasi udara. Rangga di gudang belakang segera menghampiri Shafa yang berada
di gudang depan. Rangga tertawa pelan melihat Shafa yang masih tertidur pulas.
“Sha, bangun. Sebentar lagi gudang akan dibuka.”ujar Rangga.
“Darimana kamu tahu, Ngga?”tanya Shafa sambil mengucek-ucek
matanya.
“E , , anu. Biasanya kan gudang dibuka pagi-pagi sekali.”
“Oh, , , gitu.”gumam
Shafa.
Krek .
. . .
Terdengar
pintu dibuka, Rangga dan Shafa segera keluar dari gudang. Terlihat Dicky dan
Ilham di luar pintu, mereka terkejut melihat Shafa bersama dengan Rangga. Dicky
dan Ilham memasang raut wajah penuh tanya.
“Loh. Loe kok di sini sih, Ngga?”tanya Ilham.
“Rangga dan gue
kejebak di gudang, Ham. Makasih kalian udah bukain gudang ini.”ujar Shafa.
“Loh, bukannya kita bertiga ngerencanain hal ini buat
ngejebak Shafa, kok loe malah ikut kejebak sih, Ngga.”ujar Dicky.
‘Goblokkkkkkkkk.
. . . ‘batin Rangga.
“Apa maksud loe, Dic. Kalian bertiga ngejebak gue di gudang
ini?”tanya Shafa, dan semua terdiam.
“Kalian jahat, gue benci sama kalian semua, terutama loe,
Rangga Pras Tama.”ujar Shafa sambil menjauh pergi.
Rangga, Dicky, dan Ilham masih
terpaku di depan gudang sekolah. Dicky dan Ilham bingung dengan semua hal yang
terjadi.
“Dasar bodoh, begok.”teriak Rangga.
“Loh kenapa loe marah, Ngga? Seharusnya loe kan seneng udah
bisa buat Shafa nangis.”ujar Dicky, dan Rangga terdiam.
“Jangan bilang kalau loe jatuh cinta sama Shafa.”selidik
Ilham.
“Ayolah, Ngga. Jujur sama kita, kita kan sahabat loe.”tambah
Dicky
“Ok, gue ngaku. Gue mulia sayang sama Shafa.
“Mau kita bantu?”tawar Ilham dan Dicky.
“Kalian punya ide?”
“Eh, gue punya. Gimana kalau loe pura-pura sakit aja,Ngga.
Kalau Shafa juga sayang sama loe, pasti dia bakalan sedih dan kuatir sama
loe.”ujar Ilham. Rangga terlihat berpikir.
“Ok, gue setuju.”ucap Rangga sambil tersenyum.
“Kayaknya jaket dan celana yang dipakai Shafa tadi milik loe
deh.”ucap Ilham.
“Emank bener, hehe, dia lupa kali. Tapi nggak apa-apa kok,
aku ikhlas kalau dia bawa jaket dan celana favorit gue.”
“Ngga, mendingan loe sekarang pulang deh. Loe kan nggak
mandi seharian, haha.”gurau Dicky.
“Ye enak aja. Meskipun aku nggak mandi satu hari, bau gue
masih wangi. Ya udah deh, gue cabut dulu ya,bye guys.”
“Bye.”ujar Rangga sambil bergegas menuju tempat parkir.
aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa
Pagi itu Shafa terlambat menuju
sekolah, ia terburu-buru untuk mempersiapkan buku-bukunya. Terlihat jaket dan
celana yang ia pinjam dari Rangga. Saat Shafa
marah pada Rangga, ia lupa kalau baju yang dipakainya adalah milik
Rangga, ia merasa malu sekaligus senang. Karena Shafa dapat mengenang Rangga
lewat jaket dan celana itu. Shafa segera meraih pakaian itu dan dimasukkanya ke
tas.
Bel berbunyi tanda istirahat,
Shafa segera menuju kantin. Namun, sebelum ia sampai di kantin Dicky dan Ilham
menghadangnya.
“Hai, Shafa.”sapa Ilham dengan raut wajah sedih.
“Hai juga.”jawab Shafa cuek.
“Sha, Rangga sakit, loe mau jenguk dia hari ini bareng
kita?”ucap Dicky.
“I don’t care.”
“Loe beneran nggak peduli?”tanya Ilham dengan raut wajah
penuh selidik.
“Dia koma, Sha. Rangga sakit parah.”ujar Dicky.
“Kan dia punya banyak cewek, suruh aja mereka buat jenguk.”
“Sha, gue serius.”ucap Ilham.
Shafa terdiam, ia bingung antara
percaya dan tidak percaya. Ia tidak mau tertipu dengan kejailan mereka untuk
kedua kalinya.
“Loe tega banget sama Rangga, Sha. Gue salah nilai loe. Dic,
cabut yuk.”
“Eh , , , em , ,
tunggu. Gue ikut kalian.”
aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa
Sepulang sekolah Shafa, Dicky dan Ilham menjenguk Rangga di
rumah sakit Kusuma. Sesampainya di rumah sakit Shafa langsung menemui Rangga di
ruang ICU lantai empat.
“Sha, samperin Rangga gih.”ujar Ilham.
Shafa
mendekati Rangga yang terbaring lemas di ranjang. Matanya terpejam, infus dan
alat-alat rumah sakit menemaninya. Ayah
Rangga hanya dapat terdiam di tempat duduk yang lain.
“Rangga, kenapa kamu bisa kayak gini?”tanya Shafa pada Rangga
yang terbaring tanpa suara. Hanya suara alat detak jantung yang terus berbunyi.
“Sha, sebenarnya kami merencanakan sesuatu agar loe dan
Rangga bisa baikan lagi. Rangga sangat menyayangi loe. Rangga ingin pura-pura
sakit agar loe kuatir padanya. Namun, ternyata Rangga benar-benar sakit. Dia
mempunyai penyakit leukemia yang parah, ayahnya menemukan Rangga tergeletak di
kamar mandi bersimbah darah di mulut dan tangannya.”ujar Dicky.
Shafa
tersentak. Saat terjebak di gudang dulu, ia menemukan bekas darah di celana dan
tangan Rangga . Shafa kira itu hanya bekas warna merah kotor dari lantai dan
dinding gudang, dan kini dia tahu, ternyata itu benar-benar darah.
“Rangga, Rangga bangun. Ini aku, Shafa. Aku sudah maafin
semua kesalahan kamu, kamu juga minta maaf sama kamu, karena aku telah
membohongi perasaanku sendiri. Aku menyanyangimu Rangga, aku nggak mau kamu kayak gini, ayo bangun.
Aku ingin kita bermain gitar lagi, kita bercanda lagi. Rangga, ayo bangun.”ucap
Shafa sambil menunduk di sisi Rangga.
Shafa mencoba menggenggam tangan
Rangga. Ilham dan Dicky hanya terdiam di samping ayah Rangga. Shafa ingin
menangis menatap Rangga yang terbaring lemah dan pucat.
“Rangga, ayo bangun, ayo , , , ,. Kamu bilang kamu
menyayangiku. Jangan membuatku menangis seperti ini.”ucap Shafa yang berderai
air mata.
Tit , ,
tit , , ttttiiiiiiiittttttttttttttttttt
, , , , , . alat pendeteksi detak jantung berbunyi keras. Ayah Rangga langsung
berteriak memanggil dokter dan perawat. Ilham dan Dicky mulai panik dan
mendekati Rangga.
“Rangga , , , , , ,
Rangga , , , . jangan membuatku takut, aku mohon buka matamu, Rangga , ,
, , .”teriak Shafa saat Dicky menarik tangan Shafa untuk keluar ruangan.
Terlihat
dokter dan perawat bekerja keras untuk menyelamatkan Rangga. Namun, dokter dan
perawat segera keluar dari kamar Rangga dengan wajah sedih.
“Doni, bagaimana keadaan anakku? Dia baik-baik saja
kan?”ujar ayah Rangga sambil menggungcang-guncangkan tubuh dokter Doni, sahabat
Ayah Rangga.
“Maaf, Reza. Kami tidak dapat menyelamatkan anakmu. Detak jantungnya
tidak ada, sudah kami coba segala cara, namun , jantungnya tidak kunjung
berdetak. Tabahkan hatimu, Reza.”ucap dokter Doni sambil menepuk pundak ayah
Rangga.
“Tidak , , , .”teriak Shafa sambil menerobos pintu kamar
Rangga.
“Rangga, ayo bangun. Ayo , ,, “ucap Shafa.
“Sha, ikhlaskan dia. Rangga pasti sangat senang loe nemenin
dia pada saat-saat terakhir. Rangga sangat menyayangimu, bahkan dia merelakan
jaket dan celana jeans favoritnya. Aku yang sudah menjadi sahabatnya selama 15
tahun saja tidak diperbolehkan untuk memakainya, apalagi meminjamnya.”ujar Dicky
sedih, namun, bibirnya tersenyum mengingat masa lalu.
“Kami sangat sedih, sama sepertimu, Sha. Tapi kita harus
merelakan dia, dia tidak akan merasa kesakitan lagi.”ucap Ilham.
Shafa terdiam. Ia tidak dapat berpikir saat
ini. Perasaannya campur aduk, antara rasa sedih, kalut, marah dan kesal. Ia
sedih dan kalut karena orang yang ia sayangi meninggalkannya dengan sesuatu
yang ia tidak mengerti, ia kesal dan marah karena Rangga meninggalkannya tanpa
Rangga tau bahwa ia juga menyanyanginya.
‘Mengapa kamu meninggalkanku
sekarang Rangga, di saat aku sudah merasakan perasaan yang dalam padamu. Ya
Allah , , ,’
Kau tak sempat tanyakan aku
Cintakah aku padamu
Tiap kali aku bersujud aku
berdoa
Suatu saat kau bisa cinta
padaku
Tiap kali aku memanggil di
dalam
Mana sunny, mana sunnyku,
Tamat
Cerita ini hanya fiktif belaka. Jika ada salah kata dan
apapun yang tidak berkenan pada hati pembaca. Saya minta maaf, Nur asiyah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar