Buku, Buku, dan Buku
Namaku Asiyah. Umurku 18 tahun. Saat ini
aku menjadi seorang mahasiswa di suatu perguruan tinggi di provinsiku. Aku akan
menceritakan sebuah cerita kepada kalian.
Saat aku berumur sembilan tahun aku
duduk kelas tiga SD. Kelasku terletak di ujung bangunan bagian selatan dan
menghadap ke utara, berhadapan dengan
bangunan kantor, kelas empat, lima, dan enam. Di depan setiap kelas terdapat
pohon mangga yang selalu berbuah tiap musimnya. Oh iya, Aku ingat betul
perpustakaan sekolahku yang berada di bangunan bagian timur yang menghadap ke arah
barat. Perpustakaan sekolahku tidaklah luas. Sekitar 3x3 meter, perpustakaan dipenuhi dengan deretan rak buku di tiap
sisinya, ditambah pula beberapa bangku panjang di tengah-tengah untuk
siswa-siswi yang ingin membaca di sana. Perpustakaan kecil itu bukanlah
perpustakaan idaman. Karena perpustakaan itu jarang dikunjungi, petugas perpus
tetap pun tidak ada. Hanya terkadang salah satu guru mampir untuk melihat
perpustakaan tersebut.
Suatu hari aku duduk santai di depan
perpustakaan sekolah. Beberapa temanku bermain bola kasti di halaman dengan
riang gembira. Aku mencoba masuk perpustakaan kecil itu. Beberapa saat aku
berjalan menyusuri deretan rak buku. Aku duduk di bangku panjang dan melihat
sekeliling. Sepi dan sedikit berdebu, tetapi aku yakin banyak buku yang
menyenangkan di sini. Tanpa kusadari
tergeletak satu buku di samping tempat dudukku. Aku lupa judul buku itu. Namun,
aku masih cukup ingat apa isi buku itu. Buku itu bersampul hijau tua dan berisi
cerita anak-anak . buku itu menceritakan seorang anak yang tinggal bersama
ibunya. Ibunya adalah seorang yang bekerja keras. Di suatu malam seorang anak dan
ibunya itu beranjak untuk pulang menuju rumahnya. Ibunya yang bekerja hingga
larut malam pun masih dengan semangat menyemangati anaknya. Malam itu adalah
malam yang buruk. Hujan deras dan petir menyambar . sang anak pun tidak yakin
apakah ia dan ibunya dapat melewati badai itu untuk sampai di rumah mereka.
Namun, tiba-tiba bos sang ibu melarang mereka berdua untuk pulang karena
tersiar kabar bahwa desa tempat tinggal mereka terkena banjir bandang. Ibu dan
anak itu pun segera diajak oleh salah satu anggota ABRI yang berkeliling untuk
menuju tempat pengungsian. Beberapa hari setelah sang ibu dan anak tadi tinggal
di pos pengungsian mereka, mereka pun kembali ke rumah mereka menggunakan mobil
ABRI. Masih terlihat jelas puing-puing bangunan dan korban luka ringan karena
bencana itu. Anggota ABRI dengan sabar dan semangat membantu warga untuk membersihkan
puing-puing bangunan serta berusaha memperbaiki rumah-rumah yang roboh. Sang
anak sangat mengagumi para anggota ABRI
yang perkasa dan dengan ikhlas membantu mereka yang lemah. Akhirnya, anak itu
bercita-cita menjadi seorang ABRI saat dia dewasa nanti.
Sebenarnya aku membaca buku itu tidak
sekali lahap. Aku meminjam buku itu selama tiga hari. Aku membawanya pulang,
dan aku kembalikan di deretan rak buku, bukan di bangku. Aku sangat menyesali
ketidakadaan petugas perpustakaan karena banyak buku perpustakaan yang hilang
saat itu.
Saat aku duduk di kelas lima. Aku dan
kawan-kawanku membersihkan kelas agar terlihat indah dan nyaman untuk
ditempati. Aku dan beberapa temanku bertugas untuk membongkar lemari yang
kotor. Beberapa perabotan dan buku aku pindahkan ke depan kelas untuk
kubersihkan. Tidak sengaja aku melihat satu buku yang sanga menarik. Sampulnya
berwarna kuning. Aku lupa judulnya, tetapi aku sangat ingat itu adalah buku tentang
cara memanfaatkan buah pisang. Buah pisang tidak hanya dimakan langsung atau
hanya digoreng saja. Namun, dapat dijadikan keripik, selai, tepung roti dan
lain-lain. Aku masih ingat ada tokoh utama yang tinggal di desa dan memiliki
sahabat yang bertempat tinggal di kota. Suatu hari ayah dari sahabatnya itu
berkunjung ke desa untuk suatu tugas. Saat itu pula ayah sahabatnya yang
menjadi sahabat dari ayah tokoh utama pun berbagi ilmu tentang pemanfaatan buah-buahan
yang lebih berkualitas dan bernilai jual tinggi. Dengan kerja keras dan
kerjasama akhirnya keluarga kecil yang tinggal di desa itu tidak hanya menjual
mentah hasil kebunnya. Namun, mengolahnya agar terjual dengan nilai yang lebih
tinggi. Keluarga kecil itu pun tidak selalu mendapatkan jalan mulus dalam
usahanya. Namun, dengan ilmu dan ketekutan yang mereka miliki akhirnya mereka
dapat mengembangkan usaha mereka. Mereka memiliki beberapa pegawai dan dapat
menyekolahkan anak sulung mereka ke kota. Karena anak sulung mereka memang
pandai dan rajin dalam melakukan berbagai hal yang bermanfaat.
Masih kuingat dalam cerita ini banyak
sekali ilmu yang ditorehkan. Bagaimana cara menanam pisang yang baik, cara
membuat mesin pengering untuk keripik pisang, cara membuat keripik pisang, dan
lain-lain. Tidak ada unsur percintaan meski tokoh anak sulung di cerita ini
telas berumur lima belas tahun. Namun, cerita ini sarat dengan kekeluargaan dan
kerja keras. Aku melahap buku itu selama dua hari. Hanya selisih satu hari
dengan buku ABRI (aku lupa judulnya ^_^).
Kini aku berpikir. Apakah anak zaman
sekarang masih suka membaca buku-buku cerita. Entah itu cerita ringan atau pun
cerita yang berisi ilmu pengetahuan. Jika iya, apakah buku itu benar-benar
layak untuk dibaca oleh anak-anak. Apakah anak-anak saat ini lebih suka bermain
HP dan PS daripada membaca buku? Sungguh sayang jika memang jawaban dari
pertanyaanku adalah iya. Jujur, dulu saat aku masih duduk di SD aku sangat
mengagumi buku-buku pelajaran dan buku-buku yang ada di perpustakaan. Karena
aku belum bisa membeli buku-buku yang
ada di sekolahku. Aku sangat menyayangi buku, dan sifatku itu aku bawa ke SMP.
Dengan buku aku dapat tertawa, menangis, mengerti, dan merasa bodoh. Buku,
buku, dan buku.
SELESAI
Foto yang tercantum adalah foto sahabatku di Surabaya. Ria dan Dewi. ^_^
Tidak ada komentar:
Posting Komentar