Senin, 03 Februari 2014

Buku, Buku, dan Buku


Buku, Buku, dan Buku

Namaku Asiyah. Umurku 18 tahun. Saat ini aku menjadi seorang mahasiswa di suatu perguruan tinggi di provinsiku. Aku akan menceritakan sebuah cerita kepada kalian.
Saat aku berumur sembilan tahun aku duduk kelas tiga SD. Kelasku terletak di ujung bangunan bagian selatan dan menghadap ke  utara, berhadapan dengan bangunan kantor, kelas empat, lima, dan enam. Di depan setiap kelas terdapat pohon mangga yang selalu berbuah tiap musimnya. Oh iya, Aku ingat betul perpustakaan sekolahku yang berada di bangunan bagian timur yang menghadap ke arah barat. Perpustakaan sekolahku tidaklah luas. Sekitar 3x3 meter, perpustakaan  dipenuhi dengan deretan rak buku di tiap sisinya, ditambah pula beberapa bangku panjang di tengah-tengah untuk siswa-siswi yang ingin membaca di sana. Perpustakaan kecil itu bukanlah perpustakaan idaman. Karena perpustakaan itu jarang dikunjungi, petugas perpus tetap pun tidak ada. Hanya terkadang salah satu guru mampir untuk melihat perpustakaan tersebut.
Suatu hari aku duduk santai di depan perpustakaan sekolah. Beberapa temanku bermain bola kasti di halaman dengan riang gembira. Aku mencoba masuk perpustakaan kecil itu. Beberapa saat aku berjalan menyusuri deretan rak buku. Aku duduk di bangku panjang dan melihat sekeliling. Sepi dan sedikit berdebu, tetapi aku yakin banyak buku yang menyenangkan di sini.  Tanpa kusadari tergeletak satu buku di samping tempat dudukku. Aku lupa judul buku itu. Namun, aku masih cukup ingat apa isi buku itu. Buku itu bersampul hijau tua dan berisi cerita anak-anak . buku itu menceritakan seorang anak yang tinggal bersama ibunya. Ibunya adalah seorang yang bekerja keras. Di suatu malam seorang anak dan ibunya itu beranjak untuk pulang menuju rumahnya. Ibunya yang bekerja hingga larut malam pun masih dengan semangat menyemangati anaknya. Malam itu adalah malam yang buruk. Hujan deras dan petir menyambar . sang anak pun tidak yakin apakah ia dan ibunya dapat melewati badai itu untuk sampai di rumah mereka. Namun, tiba-tiba bos sang ibu melarang mereka berdua untuk pulang karena tersiar kabar bahwa desa tempat tinggal mereka terkena banjir bandang. Ibu dan anak itu pun segera diajak oleh salah satu anggota ABRI yang berkeliling untuk menuju tempat pengungsian. Beberapa hari setelah sang ibu dan anak tadi tinggal di pos pengungsian mereka, mereka pun kembali ke rumah mereka menggunakan mobil ABRI. Masih terlihat jelas puing-puing bangunan dan korban luka ringan karena bencana itu. Anggota ABRI dengan sabar dan semangat membantu warga untuk membersihkan puing-puing bangunan serta berusaha memperbaiki rumah-rumah yang roboh. Sang anak sangat mengagumi  para anggota ABRI yang perkasa dan dengan ikhlas membantu mereka yang lemah. Akhirnya, anak itu bercita-cita menjadi seorang ABRI saat dia dewasa nanti.
Sebenarnya aku membaca buku itu tidak sekali lahap. Aku meminjam buku itu selama tiga hari. Aku membawanya pulang, dan aku kembalikan di deretan rak buku, bukan di bangku. Aku sangat menyesali ketidakadaan petugas perpustakaan karena banyak buku perpustakaan yang hilang saat itu.
Saat aku duduk di kelas lima. Aku dan kawan-kawanku membersihkan kelas agar terlihat indah dan nyaman untuk ditempati. Aku dan beberapa temanku bertugas untuk membongkar lemari yang kotor. Beberapa perabotan dan buku aku pindahkan ke depan kelas untuk kubersihkan. Tidak sengaja aku melihat satu buku yang sanga menarik. Sampulnya berwarna kuning. Aku lupa judulnya, tetapi aku sangat ingat itu adalah buku tentang cara memanfaatkan buah pisang. Buah pisang tidak hanya dimakan langsung atau hanya digoreng saja. Namun, dapat dijadikan keripik, selai, tepung roti dan lain-lain. Aku masih ingat ada tokoh utama yang tinggal di desa dan memiliki sahabat yang bertempat tinggal di kota. Suatu hari ayah dari sahabatnya itu berkunjung ke desa untuk suatu tugas. Saat itu pula ayah sahabatnya yang menjadi sahabat dari ayah tokoh utama pun  berbagi ilmu tentang pemanfaatan buah-buahan yang lebih berkualitas dan bernilai jual tinggi. Dengan kerja keras dan kerjasama akhirnya keluarga kecil yang tinggal di desa itu tidak hanya menjual mentah hasil kebunnya. Namun, mengolahnya agar terjual dengan nilai yang lebih tinggi. Keluarga kecil itu pun tidak selalu mendapatkan jalan mulus dalam usahanya. Namun, dengan ilmu dan ketekutan yang mereka miliki akhirnya mereka dapat mengembangkan usaha mereka. Mereka memiliki beberapa pegawai dan dapat menyekolahkan anak sulung mereka ke kota. Karena anak sulung mereka memang pandai dan rajin dalam melakukan berbagai hal yang bermanfaat.
Masih kuingat dalam cerita ini banyak sekali ilmu yang ditorehkan. Bagaimana cara menanam pisang yang baik, cara membuat mesin pengering untuk keripik pisang, cara membuat keripik pisang, dan lain-lain. Tidak ada unsur percintaan meski tokoh anak sulung di cerita ini telas berumur lima belas tahun. Namun, cerita ini sarat dengan kekeluargaan dan kerja keras. Aku melahap buku itu selama dua hari. Hanya selisih satu hari dengan buku ABRI (aku lupa judulnya ^_^).
Kini aku berpikir. Apakah anak zaman sekarang masih suka membaca buku-buku cerita. Entah itu cerita ringan atau pun cerita yang berisi ilmu pengetahuan. Jika iya, apakah buku itu benar-benar layak untuk dibaca oleh anak-anak. Apakah anak-anak saat ini lebih suka bermain HP dan PS daripada membaca buku? Sungguh sayang jika memang jawaban dari pertanyaanku adalah iya. Jujur, dulu saat aku masih duduk di SD aku sangat mengagumi buku-buku pelajaran dan buku-buku yang ada di perpustakaan. Karena aku  belum bisa membeli buku-buku yang ada di sekolahku. Aku sangat menyayangi buku, dan sifatku itu aku bawa ke SMP. Dengan buku aku dapat tertawa, menangis, mengerti, dan merasa bodoh. Buku, buku, dan buku.

                                                          SELESAI

Foto yang tercantum adalah foto sahabatku di Surabaya. Ria dan Dewi. ^_^

Tidak ada komentar:

Posting Komentar