Rabu, 12 Februari 2014

Cerpen-Dua Manusia Mungil di Terminal


Dua Manusia Mungil di Terminal
Tanggal 29 September 2013. Jam tanganku menunjukkan pukul enam kurang seperempat, dan kudengar azan maghrib berkumandang. Aku dengan langkah gontai menuju bus kota yang akan mengantarku menuju terminal Joyoboyo. Suara kondektur terdengar ganas untuk menarik penumpang satu per satu menuju bus kesayangan mereka. Kulihat bangku berjajar kosong. Hanya ada seorang sopir yang menyulut sebuah rokok  sembari tersenyum padaku. Aku menghela napas panjang, dan aku mulai duduk di bangku depan untuk menunggu keberangkatan bus.
Satu per satu penumpang datang hingga bangku bus tak tersisa untuk penumpang terakhir. Pengamen dan pedagang asongan silih berganti untuk singgah di bus yang tidak berjalan sedari tadi. Kulihat jam tanganku lagi, pukul 18.30. rasa lapar dan kantuk menyerangku dengan penuh kegembiraan. Beberapa kali perutku berbunyi meminta jatahnya, dan beberapa kali juga aku hampir jatuh dari tempat dudukku karena kantuk. Tas berat yang kubawa dari Tulungagung juga menguras tenagaku. Beras pemberian emak yang tidak ringan membuatku nyaris terjungkal.
Tak kunjung bergerak bus yang kutumpangi. Aku mencoba untuk santai. Namun, seorang anak kecil mencengkeram lenganku dan seketika aku menoleh. Ternyata seorang anak kecil berumur sekitar tujuh tahun mencengkeram lenganku untuk mendapatkan sesuatu untuk dia pegang agar tubuhnya yang mungil tidak limbung (meskipun bus kota tidak bergerak dari tempatnya sama sekali). Anak kecil itu memakai baju lengan pendek terusan selutut berwarna merah muda yang dihiasi motif bunga-bunga berwarna kuning. Terlihat lusuh dan kotor. Ia tersenyum padaku dan aku pun membalasnya. Saat aku berpaling darinya ia langsung memberiku sebuah amplop kecil disertai tulisan dibaliknya. Kutatap dia dan satu anak kecil di belakangnya yang siap melantunkan sebuah lagu dengan gitar kecil yang ia bawa.
Aku mendesah penuh pilu. Rasanya hatiku dikoyak tajam oleh situasi malang yang didapatkan oleh dua anak itu. Lagu pertama mereka lantunkan dari Papinka yang berjudul Masih Mencintaimu. Aku menghela napas untuk kesekian kalinya. Anak sekecil itu sudah melantunkan lagu yang belum cukup untuk umur mereka. Aku pun bertanya-tanya apakah mereka mengerti dan tahu maksud dari lagu yang mereka nyanyikan. Lagu pertama berakhir dan langsung disambung oleh lagu kedua yang aku tidak tahu judulnya. Namun, aku tahu itu lagu orang dewasa yang bertemakan perpisahan sepasang kekasih. Aku mendesah pasrah, lagu sendu itu tidak pantas dinyanyikan oleh dua orang anak bersuara cempreng penuh khas suara anak-anak.
Setelah lagu usai anak berbaju merah muda mulai mengambil amplop dari para penumpang. Aku terdiam tak bergerak, dan saat anak kecil itu menghampiriku, aku segera mengembalikan amplod itu kepadanya. Jujur saja aku tak menaruh satu rupiah pun dalam amplop itu. Bukan karena aku pelit atau  hemat ( eh yang hemat iya juga sih, hehe maklum anak kos). Aku mempunyai pertanyaan-pertanyaan misterius yang muncul di kepalaku. Jika dua anak kecil mengamen di malam hari, apakah keesokan harinya mereka dapat fokus belajar di sekolah? Atau mereka malah tidak sekolah? Lalu dimana kedua orang tua mereka? Apakah orang tua mereka membiarkan mereka mengamen dan kelelahan sedangkan emakku saja sering menangis dan memarahiku jika aku sakit karena kelelahan. Kemana uang penghasilan anak kecil itu akan digulirkan? Untuk biaya hidup mereka atau diserahkan kepada orang-orang yang tidak bertanggungjawab.
Sampai sekarang pertanyaan-pertanyaan itu masih berputar-putar di pikiranku. Saat aku menulis hal ini pun aku masih memikirkan senyuman anak berbaju merah muda itu. Apakah senyumannya tulus dari hati dan kehidupan indahnya? Atau hanya senyum palsu agar terlihat tabah dan tangguh di kehidupan jalan yang keras dan sangat tidak pantas untuk dua anak kecil yang membutuhkan pendidikan serta kebahagiaan bermain di lingkungan keluarga.


                                                                  TAMAT

Cerita ini berdasarkan cerita nyata diri saya sendiri. Terima kasih.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar