Dua Manusia Mungil di Terminal
Tanggal 29 September 2013. Jam tanganku menunjukkan pukul
enam kurang seperempat, dan kudengar azan maghrib berkumandang. Aku dengan
langkah gontai menuju bus kota yang akan mengantarku menuju terminal Joyoboyo.
Suara kondektur terdengar ganas untuk menarik penumpang satu per satu menuju
bus kesayangan mereka. Kulihat bangku berjajar kosong. Hanya ada seorang sopir
yang menyulut sebuah rokok sembari
tersenyum padaku. Aku menghela napas panjang, dan aku mulai duduk di bangku
depan untuk menunggu keberangkatan bus.
Satu per satu penumpang datang hingga bangku bus tak tersisa
untuk penumpang terakhir. Pengamen dan pedagang asongan silih berganti untuk
singgah di bus yang tidak berjalan sedari tadi. Kulihat jam tanganku lagi,
pukul 18.30. rasa lapar dan kantuk menyerangku dengan penuh kegembiraan. Beberapa
kali perutku berbunyi meminta jatahnya, dan beberapa kali juga aku hampir jatuh
dari tempat dudukku karena kantuk. Tas berat yang kubawa dari Tulungagung juga
menguras tenagaku. Beras pemberian emak yang tidak ringan membuatku nyaris
terjungkal.
Tak kunjung bergerak bus yang kutumpangi. Aku mencoba untuk
santai. Namun, seorang anak kecil mencengkeram lenganku dan seketika aku
menoleh. Ternyata seorang anak kecil berumur sekitar tujuh tahun mencengkeram
lenganku untuk mendapatkan sesuatu untuk dia pegang agar tubuhnya yang mungil
tidak limbung (meskipun bus kota tidak bergerak dari tempatnya sama sekali).
Anak kecil itu memakai baju lengan pendek terusan selutut berwarna merah muda
yang dihiasi motif bunga-bunga berwarna kuning. Terlihat lusuh dan kotor. Ia
tersenyum padaku dan aku pun membalasnya. Saat aku berpaling darinya ia
langsung memberiku sebuah amplop kecil disertai tulisan dibaliknya. Kutatap dia
dan satu anak kecil di belakangnya yang siap melantunkan sebuah lagu dengan
gitar kecil yang ia bawa.
Aku mendesah penuh pilu. Rasanya hatiku dikoyak tajam oleh
situasi malang yang didapatkan oleh dua anak itu. Lagu pertama mereka lantunkan
dari Papinka yang berjudul Masih Mencintaimu. Aku menghela napas untuk kesekian
kalinya. Anak sekecil itu sudah melantunkan lagu yang belum cukup untuk umur
mereka. Aku pun bertanya-tanya apakah mereka mengerti dan tahu maksud dari lagu
yang mereka nyanyikan. Lagu pertama berakhir dan langsung disambung oleh lagu
kedua yang aku tidak tahu judulnya. Namun, aku tahu itu lagu orang dewasa yang
bertemakan perpisahan sepasang kekasih. Aku mendesah pasrah, lagu sendu itu
tidak pantas dinyanyikan oleh dua orang anak bersuara cempreng penuh khas suara
anak-anak.
Setelah lagu usai anak berbaju merah muda mulai mengambil
amplop dari para penumpang. Aku terdiam tak bergerak, dan saat anak kecil itu
menghampiriku, aku segera mengembalikan amplod itu kepadanya. Jujur saja aku
tak menaruh satu rupiah pun dalam amplop itu. Bukan karena aku pelit atau hemat ( eh yang hemat iya juga sih, hehe
maklum anak kos). Aku mempunyai pertanyaan-pertanyaan misterius yang muncul di
kepalaku. Jika dua anak kecil mengamen di malam hari, apakah keesokan harinya
mereka dapat fokus belajar di sekolah? Atau mereka malah tidak sekolah? Lalu
dimana kedua orang tua mereka? Apakah orang tua mereka membiarkan mereka
mengamen dan kelelahan sedangkan emakku saja sering menangis dan memarahiku
jika aku sakit karena kelelahan. Kemana uang penghasilan anak kecil itu akan
digulirkan? Untuk biaya hidup mereka atau diserahkan kepada orang-orang yang
tidak bertanggungjawab.
Sampai sekarang pertanyaan-pertanyaan itu masih
berputar-putar di pikiranku. Saat aku menulis hal ini pun aku masih memikirkan
senyuman anak berbaju merah muda itu. Apakah senyumannya tulus dari hati dan
kehidupan indahnya? Atau hanya senyum palsu agar terlihat tabah dan tangguh di
kehidupan jalan yang keras dan sangat tidak pantas untuk dua anak kecil yang
membutuhkan pendidikan serta kebahagiaan bermain di lingkungan keluarga.
TAMAT
Cerita ini berdasarkan cerita nyata diri saya sendiri. Terima kasih.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar